NGOPI #1; Islamic Psychology As The Third Force


Islamic Psychologi As The Third Force

Islamic Psychology As The Third Ultimate Force

Sore ini, 30 Maret 2010, di tengah suasana mendung dan gerimis kota Yogya. Tak lupa sepoi angin sore yang cukup dingin tampaknya tetap tidak menggoyahkan niat para ‘islamizer’ IPLF untuk tetap mengadakan NGOPI untuk yang pertama di tahun ini –meski tempat yang semula direncanakan di Lapangan Rumput, kemudian dipindah di depan G100 karena cuaca yang tidak mendukung. NGOPI #1 ini mengambil tema Islamic Psychology As The Third Ultimate Force. Dipandu oleh Eko dengan pembicara Bapak Bagus Riyono, dosen Fakultas Psikologi UGM yang saat ini sedang menyelesaikan disertasinya di Fakultas Psikologi UGM, menjadi diskusi yang sangat menarik di tengah gerimis sore hari.

Tema NGOPI kali ini diambil sebagai follow up talk show yang sudah dilaksanakan pada tanggal 26 Februari lalu. Dalam talk show tersebut, Pak Ancok sempat mencetuskan kalimat Islamic Psychologi as the third force, kekuatan ketiga setelah psikologi yang berkembang di Amerika dan Eropa. Namun, rupanya oleh Pak Bagus diganti dengan kata yang lebih mengena; The Ultimate Force.

Diskusi ini diawali dengan ‘perkenalan’ dengan beberapa ‘mahzab’ psikologi yang ada saat ini. Psikoanalisa (psikodinamika) mengaku sebagai the first force. Kemudian, behaviorisme tak mau kalah. Mereka tampil sebagai the second force. Diikuti oleh aliran humanistik yang merelakan diri sebagai the third wave. Lalu muncul kognitivisme sebagai the forth wave. Dan aliran yang sedang berkembang akhir-akhir ini, yaitu Positive Psychology yang akhirnya disebut sebagai kekuatan kelima.

Kelima gelombang tersebut dijelaskan secara singkat oleh Pak Bagus, meskipun tidak seluruhnya. Beliau mengatakan, ketika Psikoanalisa berbangga dengan mempertahankan subconscious mind yang mengutamakan pikiran bawah sadar dan insting manusia, behaviorisme puas dengan teori perilakunya, humanistik lebih tertarik pada penggalian manusia seutuhnya –sadar maupun tidak sadar–, dan kognitivisme mengembangkan teori bahwa psikologi bersumber pada otak, maka Psikologi Islam menawarkan sesuatu yang lebih mendalam daripada sekadar objek observasi, yaitu paradigma yang berdasarkan Islam. Paradigma inilah yang nantinya akan sangat mempengaruhi berkembangnya ilmu. Oleh karena itu, Pak Bagus berkata, “Psikologi Islam bukan hanya the third force; tetapi lebih merupakan the ULTIMATE FORCE.

Menurut ilmu psikologi yang berkembang saat ini, manusia lebih merupakan bentuk lain dari hewan. Berbeda dengan Psikologi Islam yang memandang manusia bukan sekadar sebagai makhluk biologis. Sesuai paradigma Islam yang menjiwainya, Psikologi Islam lebih memandang manusia sebagai makhluk spiritual yang sedang mengalami pengalaman keduniaan, “Hidup adalah sebuah perjalanan,” lanjut beliau.

Menurut Pak Bagus yang memang tergabung dalam Asosiasi Psikologi Islam, beliau mengungkapkan bahwa Psikologi Islam akan menjanjikan terobosan yang luar biasa. Karena apa? Karena Psikologi Islam melihat manusia seperti yang seharusnya, meletakkannya sesuai perspektif yang benar.

Psikologi Islam tidak sama dengan Psikoanalisa yang hanya menggali manusia dari nafsu-nya saja. Tidak juga seperti Humanistik yang tidak mengakui adanya hubungan spiritual antara manusia dan Tuhannya. Tidak seperti ilmu psikologi lainnya yang menganggap doa tak lebih dari sekadar sugesti. Atau seperti yang diungkapkan buku The Secret, bahwa apabila kita memikirkan satu hal secara intens, maka hal itu akan niscaya terjadi.  Dalam memaknai arti kata do’a, Psikologi Islam memiliki pandangan yang lebih mendalam. Bahwa do’a merupakan sarana komunikasi antara seorang hamba dengan Tuhannya; bahwa doa lebih merupakan bentuk penyerahan diri, kepasrahan seorang hamba kepada Rabb-nya. “Allah Maha Berkehendak. Manusia tidak dapat mengubah nasib manusia itu sendiri, kecuali dengan satu hal; berdo’a,” kata Pak Bagus, mengutip salah satu hadist. Itulah ilustrasi mengapa Psikologi Islam tidak boleh membatasi diri dari berbagai ilmu Psikologi saat ini; agar Psikologi Islam dapat menjadi The Ultimate Force.

Dalam Psikologi Islam, kita tidak perlu bingung maupun melakukan perdebatan panjang untuk menjelaskan suatu fenomena, karena melalui Islam, the ultimate view dapat diwujudkan; merengkuh segala pandangan yang ada. Berbeda dengan ilmu Psikologi saat ini yang memandang manusia dan hidup sebagai suatu puzzle; lebih pada pembenaran parsial.

Menjelang akhir pembicaraan, Pak Bagus menekankan, Psikologi Islam seharusnya menggali seseorang dari ‘bermasalah’, dari penyimpangan, menuju pribadi yang benar dan lurus. Esensi Psikologi Islam adalah kepemilikan paradigma yang ultimate mengenai manusia. “Jangan setengah hati, tapi juga jangan ngawur,” ujar beliau.

Pembicaraan ditutup dengan satu kalimat yang sangat bermakna dari Pak Bagus, bahwa psikologi Islam seharusnya dapat menjadi sumber inspirasi, bukan sumber konflik –harus dapat merangkum seluruh ilmu Psikologi menuju satu pusat; Allah subhanahu wata’ala.

Diskusi ditutup dengan empat pertanyaan dari peserta yang dijawab oleh Pak Bagus dengan sangat baik.

“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (Q. S. Ar Ra’d:11)

About ugmiplf

Islamic Psychology Learning Forum atau yang akrab disebut sebagai IPLF merupakan suatu Kelompok Studi Fakultas di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Forum ini terbentuk karena adanya kesadaran betapa pentingnya Psikologi Islam dan islamisasi ilmu. View all posts by ugmiplf

17 responses to “NGOPI #1; Islamic Psychology As The Third Force

  • Rizky Febri

    Alhamdulillah,, selain diiringi gerimis keberkahan, ngopi perdana juga disertai dengan semangat para peserta yg nampak antusias mendengarkan ulasan2 ringan namun sarat makna dari Pak Bagus. Saya (mewakili divisi Research n Development), mohon kritik dan saran untuk perbaikan ngopi2 berikutnya..
    Kalo ada yg punya usul ttg tema, boleh jugaa.. ^^

  • wulan

    mantab jaya….
    first thing we do –> shifting our paradigm,,

  • anggiawan

    Hmm…dari baca resume kegiatannya, insyaallah luar biasa..sedih gak bisa datang pas acaranya kemren
    sedikit cerita aja, ekonomi islam berkembang dg pesat seperti sekarang diawali dg diskusi2 kecil seperti ini..
    insyaallah saya yakin, pskologi islam pun akan berkembang dengan pesat kedepannya, diawali oleh diskusi2 sederhana namun bermakna ini, semoga menyusul jg dg hukum islam, politik islam, dll..sehingga nantinya ismlamisasi ilmu pengetahuan tidak sekedar konsep2 di awang, tp telah terplikasi dalam setiap aspek kehidupan..
    Jaya selalu utk temen2 IPLF..jaya Psikologi Islam…

    • islamicpsychology2010

      InsyaAllah…amin, Akhi…
      Mari kita bersama-sama membangun optimisme…
      Semoga bukan hanya menjadi wacana. Namun, akan segera menjadi sebuah GERAKAN; menjadi The Ultimate Force bagi dunia Psikologi itu sendiri…
      Bismillaah…Semoga Allah meridhai perjuangan kecil ini…

      Salam,
      IPLF

  • widjayanti

    subhanallah, kangen rasanya menikmati masa2 ngopi bersama.

    insyaallah langkah-langkah mungil itu akan menjadi awal dari langkah-langkah besar dan bermakna mendalam bagi pejalanan hidup pribadi maupun umat

  • Rusmaladi

    Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

    Hmm… bagus juga saya melihat ada Kajian Psikologi Islami di dunia maya. Saya mengikuti perkembangan Psikologi Islam mulai dari Simposium Psikologi Islam 1994 di Solo. Karena kesibukan sudah tidak mengikuti perkembangannya lagi.

    Topik ini kelihatannya sudah pernah dibahas dari sebelum Simposium itu sendiri. Hampir menjadi suatu keniscayaan waktu itu Psikologi Islam menjadi mahzab baru, dengan berbagai diskusi, wacana dan perdebatan saat itu. Kalau melihat sekarang masih “kembali” membahas itu, kok, rasanya sepertinya kita ini belum masuk-masuk juga jadi “mahzab baru” sudah belasan tahun. Apa ada yang stagnan?

    Berkenaan dengan diskusi di atas, saya cuma ingin menambahkan bahwa salah satu yagn “hilang” dari Psikologi Modern yang sekiranya akan diisi oleh Psikologi Islam sehingga ia menjadi sangat komprehensif tentang manusia adalah : eksistensi Tuhan. Sains modern memang benar-benar menafikkan faktor eksistensi Tuhan itu sendiri. Tuhan masih dinilai sebagai persepsi, dibandingkan sebagai suatu eksistensi. Dan Islam memiliki paradigma yang berbeda dengan itu. Tuhan menjadi sesuatu yang utama dalam peri kehidupan manusia secara menyeluruh. Interaksi antara Tuhan dan manusia benar-benar merupakan interaksi antara dua dzat yang nyata, bukan antara manusia dengan persepsinya (atau delusinya). Makanya tak perlu dikatakan lagi, sudah pasti akan memberikan pemahaman yang jauh lebih komprehensif.

    Cuma kok gak ya dimulai-mulai toh. Masih mengkaji Psikologi sebagai suatu Mahzab, tapi belum menjadi mahzab itu sendiri. Saya kira setelah belasan tahun, minimal sudah adalah satu dua “produk” Psikologi Islami yang siap diadu dengan Psikologi kontemporer, yang bisa dilihat dunialah.

    Minimal, buat saya ukuran yang jelas dari Psikologi itu berhasil menjadi mahzab atau tidak adalah keberhasilan mahzab itu menyelesaikan masalah manusia saja, menjadi solusi. Karena solusi adalah bukti suatu ilmu diakui. Walau Psikoanalisa bertolak belakang dengan Behaviorism, tapi keduanya menawarkan solusi yang menyelesaikan persoalan manusia, walau hanya sebagian aspek. Dan itu yang lebih dinilai orang, daripada wacana saja.

    Jadi kita tunggu, “solusi” yang ditawarkan oleh Psikologi Islam yang bisa menyelesaikan masalah perilaku manusia saat ini dan saat yang akan datang.

    Sukses selalu.

    Wassalamu’alaikum.

    • Bagus Riyono

      Sebuah concern yang sangat valid. Islam sebagai agama (diin) sebenarnya sudah memberikan solusi besar pada peradaban manusia hingga kini. Termasuk di dalamnya ‘Psikologi Islam’ yang dalam prakteknya belum menyandang nama tersebut.

      Psikologi Islam yang kita diskusikan menurut saya, dalam jangka pendeknya adalah usaha “penyelamatan” paradigma kehidupan yang sedemikian kuat dipengaruhi oleh psikologi sekuler.

      Paradigm shift ini adalah suatu langkah yang besar dan mendasar, bukan kemandegan. Menurut saya Psikologi Islam bukanlah psikologi yang akan “menyaingi” psikologi sekuler yang sudah mapan, melainkan sebuah paradigma yang “meluruskan”.

      Oleh karena itu saya kurang sependapat bahwa Psikologi Islam akan menjadi sebuah mazab “yang lain” yang bukan psikoanalisis, bukan behavioris, bukan humanis, atau bukan yang lain-lain.

      Psikologi Islam adalah psikologi yang mengintegrasikan pecahan-pecahan ilmu psikologi sekuler dan memberikan paradigma yang benar.

      Sebagai contohnya, Teori motivasi R.U.H (dalam proses penerbitan) adalah sebuah teori yang mustahil dirumuskan tanpa paradigma Psikologi Islam.

      Dari sisi aplikasi, ‘Psikologi Islam’ sudah sangat detil diilustrasikan dalam Qur’an dan Hadist-Hadist Rasulullah S.A.W. serta sejarah peradaban Islam. Sebagai contohnya adalah bagaimana “teknik-teknik” Rasulullah S.A.W. untuk memotivasi para sahabat, bagaimana beliau melakukan “modifikasi paradigma” sehingga musuh-musuhnya bertobat dan menjadi pejuang Islam yang kuat. “Teknik-teknik” ini kemudian dilakukan oleh para sahabat dalam membangun peradaban Islam yang mengubah dunia dari kegelapan menjadi terang benderang.

      Kesimpulannya:
      Psikologi Islam bukanlah psikologi yang ‘baru’ tetapi psikologi yang BENAR.
      Seperti halnya ajaran Islam bukanlah ajaran yang baru, tetapi ajaran yang BENAR.

      Dan BENAR itu hanyalah milik Allah. Tugas kita adalah berjihad dan ber-ijtihad untuk mengjangkaunya. Dan kalau kita merangkak, Allah akan mendekati kita dengan berjalan, dan bila kita berjalan maka Allah akan mendekati kita dengan berlari.

      Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat mereka yang beriman dan berilmu.

      Wallahualam bissawab.

  • n_anjar enji

    alhamdulillah…. good job for panitia ngopi…yang punya ide kreatif, dan panitia pelaksananya…fantastic job dink.. p^^q
    semoga jalan kita semakin dimudahkan…
    amin…

  • fajar apriadi darwita

    Assalamualaykum, saya mahasiswa psikologi UI. saya sangat tertarik dengan pengembangan psikologi Islami, namun sayangnya sangat kurang acara mengenai hal ini. oleh karena itu bolehkah saya minta hasil seminar tentang hal ini

  • Effendy

    Mudah2an semuanya menjadi lancar,..amien

  • wawank

    KAK, minta saran low akultas psikologi, bagusan mana UI atw UGM?

    Jalan-jalan ke bloh aq juga ya kak!

    • islamicpsychology2010

      InsyaAllah, UI dan UGM sama-sama bagus…
      Tergantung, apa yang ingin kita cari; tempatnya atau kesuksesannya, atau yang lain?
      Bismillaah, insyaAllah di manapun kita menuntut ilmu, selama ilmu itu kita niatkan semata untuk mencari ridha Allah, Allah akan senantiasa menunjukkan jalan yang terbaik… ^-^

      Salam,
      IPLF

  • wawank

    Kakak, minta saran! Fakultas psikologi, bagusan mana UI atw UGM!

  • wawank

    Kak, tipsnya biar dtrima di psikologi UGM, gmana?

    Ksi tips utk SNMPTN kak!

    Salam kenal dari aq!

  • tata

    cepoy, web-nya keren… semangat ya cep ^^
    saya membantu doa sadja deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: